Minggu, 28 Oktober 2012

Paradigma Fungsi Pancasila Dalam Pandangan Talcott Parsons


Pengantar

Pesatnya pembangunan dan semakin merasuknya era globalisasi di Indonesia membawa dampak positif dan negatif yang harus siap dihadapi oleh bangsa ini. Salah satu dampak negatif yang muncul akibat pengaruh globalisasi adalah memberikan efek dan konsekuensi meleburnya budaya asing di dalam Budaya Indonesia, padahal budaya asing yang masuk belum tentu sesuai dengan nilai-nilai luhur serta jati diri pada budaya bangsa yang kita miliki. Sehingga Bangsa Indonesia harus memiliki landasan serta pegangan yang kuat untuk tetap mempertahankan keutuhan jati diri bangsa terhadap bangsa luar.

Dalam pembukaan UUD 1945 terkandung landasan negara yang dirumuskan dalam lima sila yang bernama PANCASILA. Pancasila merupakan sublimasi nilai-nilai budaya yang menyatukan masyarakat Indonesia dari banyak etnis, ras, kepulauan, bahasa, agama menjadi satu keutuhan bangsa yang satu. Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila merupakan sumber kekuatan bagi perjuangan Bangsa Indonesia. Pancasila juga mengandung kepribadian dan keinginan Bangsa Indonesia.

Dalam karya sosiolog Talcott Parson mengenai Funsionalisme Struktural ada empat paradigma fungsi yang terbentuk dalam skema AGIL bahwa klasifikasi fungsi sistem adalah sebagai pemelihara pola yang merupakan alat internal untuk menjaga keseimbangan pola agar tetap utuh, integrasi sebagai hasil internal dari pemeliharaan pola, pencapaian tujuan yang juga merupakan hasil pemeliharaan pola dan adaptasi sebagai alat eksternal. Pancasila yang merupakan landasan bagi suatu sistem sosial yang dapat dikaji dalam empat paradigma fungsi karya Parson dalam peranannya untuk menjaga kestabilitasan bangsa.

Tulisan ini nantinya akan terdiri dari beberapa bagian yang akan memudahkan pembaca dalam memahami tulisan ini. Sistematikanya akan terdiri dari pertama, merupakan bagian pengantar yang berisikan permasalahan serta tujuan dari tulisan ini. Kedua, merupakan kerangka konseptual yang akan mengungkapkan teori yang akan dikaitkan dengan konsep utama yaitu pancasila sebagai landasan bagi sitem negara sebagai alat pemersatu bangsa. Ketiga, hakikat pancasila sebagai landasan bagi sistem pemersatu. Keempat, Pancasila dalam teori sistem sosial karya Parsons. Kelima, penutup ulasan keseluruhan isi dari tulisan.

Kerangka Konseptual

Teori fungsionalisme struktural mempunyai latar belakang kelahiran dengan mengasumsikan adanya kesamaan antara kehidupan organisme biologis dengan struktur sosial dan berpandangan tentang adanya keteraturan dan keseimbangan dalam masyarakat. Asumsi dasar dari teori fungsionalisme struktural yaitu bahwa masyarakat menjadi suatu kesatuan atas dasar kesepakatan dari para anggotanya terhadap nilai-nilai tertentu yang mampu mengatasi perbedaan sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan. Karya Parsons ini mengungkapkan suatu keyakinan yang optimis terhadap perubahan dan kelangsungan suatu sistem.

Parsons mengembangkan empat fungsi agar sebuah sistem dapat bertahan yang biasa disingkat dengan AGIL yaitu ; pertama, Adaptasi dimana agar dapat terus berlangsung hidup sistem harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang terus berkembang serta harus mampu mempertahankan ketika situasi yang ada di lingkungan sekitar sedang tidak mendukung karena adanya pengaruh dari luar yang mencoba untuk menggoyahkan kestabilitasan sebuah sistem. Kedua, Goal Attainment atau pencapaian tujuan, sebuah sistem harus memiliki arah yang jelas agar dapat mencapai tujuan utama. Sistem harus dapat menjalankan fungsinya dalam mengatur, menentukan, dan memiliki sumber daya untuk menetapkan dan mencapai tujuan yang bersifat kolektif. Ketiga, Integrasi sebuah sistem harus mengatur hubungan antar bagian yang menjadi komponennya. Serta suatu sistem juga harus dapat mengelola hubungan antara ketiga fungsi penting lainnya. Dan yang terakhir Latensi atau Pemeliharaan Pola, sebuah sistem dalam menjalankan fungsinya harus dapat melengkapi, memelihara, dan memperbaiki pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi.

Dalam memahami keempat fungsi karya Parson yang dijelaskan dalam skema AGIL harus terus dilaksanakan masyarakat Indonesia agar dapat hidup dan berkembang serta  dapat terus bertahan dalam mengahadapi era modernisasi serta globalisasi yang siap mengancam keberlangsungan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia dalam menjalankan skema AGIL dalam menjaga keutuhan bangsa dirangkum dalam kelima sila yaitu PANCASILA yang mengandung kepribadian serta keinginan Bangsa Indonesia dalam menjaga keutuhan agar tetap menjaga jati diri sesungguhnya.

Hakikat Pancasila

Tepat pada tanggal delapan belas agustus ’45 Undang-Undang Dasar ditetapkan sebagai konstitusi tertulis bagi Bangsa Indonesia. Undang-Undang Dasar memuat mengenai prinsip dasar negara Indonesia, salah satunya mengenai Pancasila sebagai dasar negara. Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila merupakan jiwa kepribadian, dan pandangan hidup masyarakat dalam bangsa kita. Pancasila merupakan suatu ideologi yang sakti dan selalu dapat bertahan dari guncangan kisruh politik di negara ini, yaitu karena secara intrinsik dalam Pancasila itu mengandung toleransi, dan siapa yang menantang Pancasila berarti dia menentang toleransi.

Pancasila merupakan landasan idiil bangsa Indonesia. Kata pancasila terdiri dua suku kata yaitu prinsip atau asas. Keberhasilan pancasila sebagai suatu ideologi akan diukur dari terwujudnya kemajuan yang pesat, kesejahteraan yang tinggi, dan persatuan dari seluruh rakyat indonesia. Untuk membuat pancasila benar-benar sebagai alat pemersatu bangsa maka setiap aktor yang ada di dalam satu sistem harus berperan ekstra. Pancasila harus disosialisasikan kepada para generus penerus bangsa. Karena setiap butir dalam sila-sila pancasila mengandung makna yang banyak demi berlangsungnya keutuhan suatu sistem. Berikut ini penulis mencoba sedikit memberikan makna yang terkandung dalam pancasila.
Gambar 1
Lambang Pancasila






Sumber : www.google.com

Pancasila terdiri dari lima sila utama yang berisi; Pertama, Bintang melambangkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Bintang emas berkepala lima menggambarkan agama-agama besar di Indonesia, Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan juga ideologi sekuler sosialisme. Kedua, Rantai melambangkan sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab. Rantai yang disusun atas gelang-gelang kecil ini menandakan hubungan manusia satu dengan yang lainnya yang saling membantu. Gelang yang lingkaran menggambarkan wanita, gelang yang persegi menggambarkan pria. Ketiga, Pohon Beringin melambangkan sila Persatuan Indonesia. Pohon beringin ini menggambarkan kesatuan Indonesia. Pohon ini juga memiliki banyak akar yang menggelantung dari ranting-rantingnya. Hal ini menggambarkan Indonesia sebagai negara kesatuan namun memiliki berbagai akar budaya yang berbeda-beda. Keempat, Kepala banteng melambangkan sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Binatang banteng adalah binatang sosial, sama halnya dengan manusia cetusan Presiden Soekarno dimana pengambilan keputusan yang dilakukan bersama (musyawarah), gotong royong, dan kekeluargaan merupakan nilai-nilai khas bangsa Indonesia. Kelima, Padi dan Kapas melambangkan sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Warna merah-putih melambangkan warna bendera nasional Indonesia. Padi dan kapas yang menggambarkan sandang dan pangan merupakan kebutuhan pokok setiap masyarakat Indonesia tanpa melihat status maupun kedudukannya. Hal ini menggambarkan persamaan sosial dimana tidak adanya kesenjangan sosial satu dengan yang lainnya, namun hal ini bukan berarti bahwa negara Indonesia memakai ideologi komunisme.

Sekilas jika kita hanya membaca kelima sila ini tanpa memaknai isi yang terkandung dalam sila-sila tersebut kita sama saja seperti halnya anak sekolah dasar yang sedang diberikan tugas untuk menghafal pancasila dalam mata pelajaran kewargananegaran. Sebagai salah satu rakyat Indonesia kita adalah generasi penerus keberlangsungan keutuhan bangsa. Oleh karenanya dengan memahami isi dari setiap makna dalam sila-sila kita dapat menjaga keutuhan sistem untuk menciptakan keteraturan serta kebersatuan dalam struktur yang ada di masyarakat.

Dengan demikian bahwa falsafah Pancasila sebagai dasar ideologi negara Indonesia yang harus diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia agar menghormati, menghargai, menjaga dan menjalankan apa-apa yang telah dilakukan oleh para pahlawan khususnya pahlawan proklamasi yang telah berjuang untuk kemerdekaan negara Indonesia ini. Sehingga baik golongan muda maupun tua tetap meyakini Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tanpa adanya keraguan guna memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia.


Pancasila Dalam Teori Sistem Sosial  Karya Parsons

Dalam karyanya Talcott Parson memiliki keyakinan yang optimis dalam suatu sistem. Jika suatu sistem mengalami perubahan maka kestabilitasannya dapat tetap terjaga jika memiliki empat fungsi dalam menjalankan sistem tersebut. Karena masyarakat dalam suatu sistem dipandang oleh Parsons terdiri dari beberapa bagian sehingga setiap bagian tersebut memiliki peranan masing-masing. Terdiri dari memelihara pola, adaptasi, integrasi, serta pencapaian tujuan. Penulis mencoba memahami teori Parsons Pada bangsa Indonesia dalam membahas peranan pancasila sebagai alat untuk menjaga kestabilan sistem Indonesia yang  tergambar sebagai berikut.

Dalam butir-butir pancasila yang telah dijelaskan diatas dapat kita lihat bahwa Pancasila memiliki fungsi agar suatu masyarakat dapat tetap eksis dan lestari. Pandangan Parsons mengenai Pancasila adalah ; pertama, kemampuan dalam memelihara pola dalam hal memelihara sistem nilai budaya yang dianut karena budaya adalah endapan perilaku manusia. Setiap budaya yang ada di masyarakat itu akan seiring berubah dengan kemajuan zaman karena terjadi transformasi nilai dari masyarakat terdahulu ke masyarakat modern. Dengan kemampuan dalam memelihara nilai-nilai luhur serta kepercayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia. Tanpa adanya kemampuan memelihara sistem budaya yang ada di masyarakat unsur-unsur yang baru tidak akan mudah masuk ke dalam bangsa yang kokoh.

Kedua, Kemampuan masyarakat dalam beradaptasi dengan dunia yang berubah dengan cepat. Arus globalisasi yang semakin merasuk ke dalam bangsa Indonesia tidak mungkin dihindari oleh suatu bangsa. Sehingga pola adaptasi yang tepat diperlukan oleh setiap bangsa agar setiap masyarakat mampu menyesuaikan diri dengan perubahan serta memanfaatkan peluang yang muncul agar dampak negatif yang muncul dari arus globalisasi dapat mudah untuk dihindarkan.

Ketiga, Fungsi integrasi dari unsur-unsur masyarakat yang beragam sangatlah diperlukan. Seperti yang terkandung dalam sila ketiga yaitu Persatuan Indonesia. Bangsa Indonesia yang memiliki beraneka macam etnis, budaya, bahasa, serta penduduk yang tersebar dalam kepulauan membuat bangsa ini memerlukan suatu alat yang berfungsi untuk menciptakan satu prinsip yang berfungsi agar integrasi yang tercipta dalam bangsa tetap terjaga keutuhannya. Apa jadinya jika bangsa yang memiliki kebudayaan beragam tidak memiliki alat pemersatu demi terciptanya integrasi yang utuh.
Masih dalam fungsi integrasi bahwa Pancasila secara integral utuh dan menyeluruh sehingga merupakan penopang yang kokoh terhadap negara yang didirikan di atasnya, dipertahankan dan dikembangkan dengan tujuan untuk melindungi dan mengembangkan martabat dan hak-hak azasi semua warga bangsa Indonesia. Perlindungan dan pengembangan martabat kemanusiaan itu merupakan kewajiban negara, yakni dengan memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki perlakuan yang sama dalam segala hal serta memandang bahwa manusia adalah manusia sesuai dengan prinsip ideologi yang mereka pegang.

Terakhir, di dalam bangsa yang terdiri dari masyarakat  yang beraneka ragam perlu memiliki goal attainment yaitu tujuan bersama yang harus terus diperbaiki serta tertanam dalam setiap bangsanya. Dalam sila-sila yang terkandung dalam pancasila memiliki tujuan yaitu demi terciptanya satu kesatuan ditengah-tengah keberagaman agar bangsa indonesia mampu mempertahankan bangsanya dalam mencipatakan kesamaan cita-cita, pandangan, harapan, dan tujuan dalam menatap masa depan yang lebih baik.
           

Penutup
Isi Pembukaan UUD 1945 adalah nilai-nilai luhur yang universal sehingga Pancasila di dalamnya merupakan dasar yang kekal dan abadi bagi kehidupan bangsa. Gagasan vital yang menjadi isi Pancasila sebagai dasar negara merupakan jawaban kepribadian bangsa sehingga dalam kualitas awalnya Pancasila merupakan dasar negara, tetapi dalam perkembangannya menjadi ideologi dari berbagai kegiatan yang berimplikasi positif atau negatif.
Semakin berkembangnya modernisasi serta globalisasi pada sistem dunia memunculkan dampak positif pada bangsa indonesia. Salah satu dampak negatif yang muncul akibat pengaruh globalisasi adalah memberikan efek dan konsekuensi meleburnya budaya asing di dalam Budaya Indonesia, padahal budaya asing yang masuk belum tentu sesuai dengan nilai-nilai luhur serta jati diri pada budaya bangsa yang kita miliki. Sehingga Bangsa Indonesia harus memiliki landasan serta pegangan yang kuat untuk tetap mempertahankan keutuhan jati diri bangsa terhadap bangsa luar. Dalam menghidndari hal ini bangsa indonesia memerlukan alat yang diperuntukan untuk tetap memepertahan kebersatuan dan memperkokoh persatuan bangsa. Bangsa indonesia memiliki satu ideologi yang harus diperjuangkan yaitu PANCASILA.

Pancasila dalam karya parsons dapat dilihat dalam perspektif negara bangsa sebagai empat paradigma fungsi (AGIL) yang harus terus dilaksanakan agar bangsa indonesia dapat hidup dan berkembang. Pancasila memiliki fungsi dalam pemeliharaan pola, yaitu bahwa pancasila dapat tetap menjaga kestabilan budaya yang dimiliki bangsa agar tidak hilang begitu saja seiring dengan perkembangan zaman. Pancasila sebagai alat integrasi bahwa di tengah kebudayaan yang beragam bangsa indonesia tetap memiliki rasa kebersatuan dengan berlandaskan satu ideologi yakni pancasila. Pencapaian tujuan, dalam sila-sila yang terkandung dalam pancasila mengandung tujuan bangsa indonesia yang telah dirangkum oleh para tokoh besar bangsa. Serta adaptasi, pancasila dapat selalu beradapatasi terhadap kehidupan bangsanya seiring dengan kemajuan zaman yang pesat.

Dalam kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara yang sedang dilanda oleh arus krisis dan disintegrasi maka Pancasila tidak terhindar dari berbagai macam gugatan, sinisme, serta pelecehan terhadap kredibilitasnya. Namun perlu kita sadari bahwa tanpa adanya dasar negara atau ideologi maka suatu bangsa mustahil akan dapat bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan dan ancaman.

Sumber Bacaan :
 
Djamal,D.1986. Pokok-Pokok Bahasan Pancasila. Bandung: Remadja Karya.
Nazsir, Nasrullah. 2009. Teori-Teori Sosiologi. Bandung: Widya Padjajaran.

1 komentar: